Yakin mau pakai nama Jalan Layang Non Tol?

Saya ada masalah besar dengan proyek Jalan Layang Non Tol Jakarta. Bukan karena dampak atau prediksi-prediksi lainnya yang akan terjadi di kota Jakarta tapi hal lebih mendasarnya lagi.

Pertama, saya tidak tinggal di Jakarta (pernah sih tapi itu lain cerita) jadi saya tidak tahu secara persis bagaimana proses proyek jalan layang non tol itu. Yang pasti ketika saya melakukan pencarian di Google dengan kata kunci Jalan Layang Non Tol, hampir semua tajuk berita membahas kejelekan atau dampak negatif terhadap kota Jakarta.

Tapi saya memilih untuk tidak ikut-ikutan membahas kejelekan/keburukan yang sedang/akan terjadi (seperi situs-situs berita ternama lainnya). Hal begituan sudah ada ahlinya tersendiri, bukan saya.

Yang saya permasalahkan adalah penggunaan kata Non Tol itu!

Saya mengerti apa maksud mereka. Ini hanya jalan layang yang tidak dipungut biaya. Karena —setau saya (tolong koreksi saya apabila salah)— hampir semua jalan layang di Jakarta itu semuanya dipungut biaya alias Tol.

Non Tol itu sangat mudah dipelesetkan!
Begini! Coba ganti huruf N di kata Non ke huruf K. Coba baca keras-keras.

Paham maksud saya? Entah apa yang ada di kepala para penggagas proyek ini sampai bisa kepikiran pakai nama ini. Sialnya kalimat Jalan Layang Non Tol itu sudah terlanjur terpampang dimana-mana, di media massa, artikel-artikel internet, televisi, bahkan di seng-seng penutup proyek terpasang poster-poster pencitraan proyek tersebut. Menurut saya kesadaran merek di masyarakat terhadap kalimat tersebut sudah tinggi. Bakal repot sosialisasinya apabila ada nanti ada pergantian nama.

Kenapa gak dari awal saja ciptakan nama proyek yang bagus? Apa susahnya sih?

Jalan Layang Non Tol… hiyyy… Huruf N dan K di kibor dekat loh! Jari gampang kepeleset loh.

Inspirasi: Hasil percakapan tidak jelas dengan Dika Anindyajati