Ada yang salah dengan Banjir Kanal

Warga Jakarta semestinya sudah tahu apa itu Banjir Kanal. Ada dua; Banjir Kanal Timur (BKT) dan Banjir Kanal Barat (BKB). Dua kanal itu adalah salah satu upaya pengendalian banjir di kota Jakarta dengan cara menampung luapan sungai-sungai yang melintasi kota dan mengalirkannya ke laut melaui bagian-bagian hilir kota.

Mulia sekali upayanya. Bagaimana pelaksanaannya? Entahlah, buat apa saya terganggu dengan hal itu.

Yang pastinya mengganggu buat saya adalah frasa Banjir Kanal itu sendiri.

Sedikit penjelasannya dulu ya.

Seperti yang kita pelajari di Sekolah Dasar, ada dua macam pola pembentukan frasa, DM (Diterangkan -  Menerangkan) dan MD (Menerangkan - Diterangkan). Sifat utama Bahasa Indonesia adalah DM sementara bahasa-bahasa dalam rumpun Indo-German (Bahasa Belanda, Bahasa Inggris) umumnya memakai MD.

Menurut saya, prinsip dasar dari proses penerjemahan frasa adalah jangan sampai definisi dari frasa yang dimaksud menjadi berubah. Sebagai contoh: Red Rose (bahasa Inggris, pola MD) menjadi Mawar Merah (bahasa Indonesia, pola DM). Kedua frasa tersebut sama-sama memiliki arti yang serupa, sama-sama membahas sebuah/setangkai bunga mawar yang berwarna merah, bukan membahas warna.

Nah kembali ke Banjir Kanal.
Saya yakin frasa Banjir Kanal berasal dari frasa bahasa Inggris Flood Canal. Apabila kita memakai akal sehat maka terjemahan yang semestinya dari Flood Canal adalah Kanal Banjir, karena kedua frasa tersebut memiliki arti yang serupa, sama-sama membicarakan sebuah Kanal untuk mengalirkan Banjir.

Disinilah letak kobodohan penggagas/penemu/pencipta frase Banjir Kanal. Mari kita bahas. perlu diingat bahwa sifat utama frase dalam bahasa Indonesia adalah DM.

Kanal(D) Banjir(M) : Kanal/Saluran untuk mengalirkan banjir.
Banjir(D) Kanal(M) : Banjir yang isinya adalah kanal-kanal/saluran-saluran.

Cukup dengan berdasarkan logika DM-MD terlihat bahwa definisi Banjir Kanal tidak masuk akal! Tidak sesuai dengan apa yang diharapkan semestinya. Entah apa yang kebayang ada di otak mereka (pencipta Banjir Kanal) ketika membuat frasa ini. Apa mereka pada tidak lulus SD ya?

Sialnya, Walaupun frase Banjir Kanal bisa dikatakan salah secara arti, bangsa Indonesia nampaknya bisa —terlanjur— memaklumi hal itu. Itu lah satu sifat —yang menurut saya— buruk di bangsa Indonesia. Mudah maklum.

Saya yakin pasti masih banyak frasa-frasa salah terjemah —yang terlanjur dimaklumi— di dalam bahasa Indonesia tercinta kita ini. Silakan berkomentar di bawah apabila menemukan yang lain.

Rujukan:
Hukum DM dalam Bahasa Indonesia - J.S. Badudu
Banjir Kanal - Wikipedia