Naga-naganya bakal kehujanan nih..
Naga-naganya bakal pilek nih…
Naga-naganya begini, naganaganya begitu
dst.

Emang ada apa sih sama naga-naga itu? Kenapa sampai bisa dijadikan frase dalam Bahasa Indonesia? coba mari kita tilik lebih jauh.
Hasil dari KBBI:
na·ga-na·ga·nya keadaan yg menjadi gelagat atau alamat baik atau buruk: kalau begini ~ , ia tidak akan berhasil dl perundingan itu.
Oo ternyata artinya gelagat baik atau gelagat buruk —penerawangan.
Namuuun, setelah melakukan penelusuran di Google, sampai halaman ke-4 dari hasil penelusurannya pun 80% penggunaan frase Naga-naganya dalam sebuah kalimat adalah untuk menerawangkan hal buruk atau negatif (bencana, hancur, sakit, gagal, dsb.). Sisanya adalah berupa objek kepemilikan (mis: poster naga-naganya si herman) dan beberapa penerawangan baik. Bahkan contoh kalimat di KBBI merupakan penerawangan buruk.
Bayangkan, sedikit sekali penggunaan frase naga-naganya untuk penerawangan hal yang baik. Bahkan yang saya alami di dalam percakapan sehari-hari pun lebih banyak yang terawang buruknya. Jarang sekali saya mendengar penggunaan naga-naganya yang terkesan baik. Mengapa bisa begitu ya?
Saya punya pendapat.
Jaman dahulu kala, Naga berjaya tapi mereka memiliki dua kelemahan fatal
yaitu:
1. Naga adalah mahluk yang sungguh menyeramkan.
Kadal gueede! Bisa terbang dan nyembur api. Kurang seram bagaimana lagi itu? akibatnya, mereka sering membuat manusia ketakutan, naik pitam dan ujung-ujungnya, mereka pun jadi bahan buruan.

2. Naga punya masalah kronis dengan bau mulut.
Sebenarnya naga-naga itu mahluk yang cerdas dan bertatakrama namun mereka sering nggak percaya diri kalau musti adu argumen dengan manusia. Jadinya Mereka lebih memilih adu jotos saja. Dan hal ini turut diperparah oleh para manusia yang menjadikan kelemahan ini sebagai bahan olok-olokan (huh, bau naga). Naga-naga jadi ikutan naik pitam dan menjadi yang tadi disebutkan di poin pertama.

Akibat dari lingkaran setan diatas, populasi naga menurun drastis. Beberapa naga yang berhasil kabur ramai-ramai mengasingkan diri ke hutan belatara, puncak gunung dan palung-palung laut yang dalam. Jauh dari peradaban. Jauh dari para manusia yang membenci mereka.
Waktu berlalu. Lambat laun, di mata manusia, masa kejayaan naga hanya menjadi mitos belaka. Padahal mereka masih ada sampai sekarang. Hanya diam saja, sabar menunggu waktu yang tepat untuk kembali berkuasa di dunia.
Namun, diantara umat manusia —Entah apapun alasan atau kepentingannya— pasti ada kelompok-kelompok persaudaraan tertentu —yang nama-namanya tidak perlu saya sebut— yang memutarbalikkan fakta, memanipulasi data, merekayasa nilai dengan sedemikian rupa agar naga-naga tidak kembali berkuasa. Salah satu cara —yang terkait dengan bahasan saya sekarang ini— adalah dengan membuat orang Indonesia untuk menggunakan frasa Naga-naganya untuk penerawangan negatif. Sehingga secara alam bawah sadar, kita takut dan benci terhadap naga-naga. Sebuah bentukan konspirasi yang dalam, menyeluruh dan terkoordinir.
Tapi,
Jaman sekarang, perlahan-lahan sudah mulai terlihat gerakan-gerakan pro naga. Sudah ada titik cerah. Mulai dari komik Dragon Ball, novel-novel seperti eragon sampai beberapa film holywood, masing-masing mengetengahkan Naga-naga yang baik hati dan bijaksana. Maka dari itu, Wahai orang Indonesia! Dukunglah gerakan-gerakan itu. Kita tidaklah perlu harus turun tangan angkat senjata untuk naga-naga. Kita tidak perlu untuk menyoret frasa naga-naganya dalam KBBI atau melarang penggunaannya. Kita hanya cukup perbanyak penggunaan frasa Naga-naganya untuk penerawangan positif dan membangun. Paling tidak, jauh didalam sanubari kita, kita akan siap menerima kembalinya masa kejayaan Naga-naga di masa yang akan datang. Ayo!
NB: Dan naga-naganya, Beakeun bakal jadi blog paling terkenal di dunia nih. Amin!
