Konspirasi dalam penggunaan kata Payudara

Coba berhenti sejenak memandang gambar diatas. Kita kembali ke bahasan…
yuk mari…

Payudara adalah gabungan dari dua kata; Payu dan Dara. Setelah berkonsultasi ke KBBI, ini adalah hasilnya:

pa·yu Jw v laku (tt barang-barang yg dijual)

da·ra n anak perempuan yg belum kawin; gadis; perawan.

ini kesimpulan kami:
ke-laku-an perempuan dilihat dari payudaranya. semakin indah (besar —red) payudara-nya maka makin laku perempuan itu. Perempuan disini dijadikan sebagai objek, sebagai barang dagangan. Sementara ironisnya, sudah kita ketahui bersama, bahwa kata ‘payudara’ adalah kata yang kita kenal sebagai kata yang sopan dan santun. Sebuah kata yang sangat-sangat disarankan untuk dipakai dalam berbagai jenis percakapan. Sebuah kata tabu (melihat dari sifat bangsa Indonesia yang tertutup secara seksual) yang bisa ‘diterima’ dengan lapang dada. Sungguh ironis ya?

Ini jelas-jelas merupakan sebuah konspirasi besar-besaran —yang pastinya diprakarsai oleh yang namanya tidak perlu kami sebut— untuk merendahkan martabat perempuan. cih.

Maka saudara-saudara sekalian. Perlu kami jelaskan sedikit. Kami dari Beakeun (yang hingga saat ini 100% anggotanya adalah lelaki tulen) mengakui bahwa kami sangat menyukai sekitar wilayah dada perempuan. Perlu kami akui juga bahwa sekitar wilayah dada itu cukup berperan penting dalam menilai keindahan perempuan. Namun kami tidak pernah (dan tidak akan pernah) bermaksud untuk merendahkan martabat perempuan. Karena kami selalu menyebut sekitar wilayah dada perempuan dengan kata Tetek. Oleh karena itu, mulailah pergunakan kata ‘Tetek’ terhitung sejak saat ini. Tetek!